Persaingan jasa transportasi di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), antara angkutan umum konvensional dan online semakin memanas. Untuk kesekian kalinya, pengusaha dan sopir angkutan kota (angkot) menggelar aksi protes ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel terhadap keberadaan transportasi online.

BACA JUGA : Cara Mengamati Angka Togel Pasti Tembus

Para pendemo meminta Gubernur Sumsel, Alex Noerdin, menutup aplikasi transportasi online yang sudah beroperasi sejak beberapa tahun lalu.

Aksi damai berlangsung pada Rabu, 27 September 2017, sejak pukul 11.00 WIB. Mereka menggelar long march dari Kantor DPRD Sumsel menuju ke Kantor Pemprov Sumsel.

Puluhan demonstran langsung memadati halaman depan Kantor Gubernur Sumsel dan menyampaikan aspirasinya. Pejabat Pemprov Sumsel akhirnya merespons para pendemo dan mengajak perwakilan mereka untuk mengikuti mediasi di dalam ruangan.

Setelah mediasi usai, Ketua Paguyuban Supir Angkot Sumsel, Mauluddin, menyampaikan kepada para pendemo bahwa aspirasinya sudah diterima oleh perwakilan pejabat Pemprov Sumsel.

“Untuk tuntutan kalian, bapak-bapak di kantor gubernur bisa mengirim surat aspirasi kita ke menteri (Kementerian Perhubungan) bahwa di Palembang (aplikasi transportasi online) ditutup,” ujarnya kepada pendemo.

Sejak adanya transportasi online di Palembang, setoran para sopir angkot menurun drastis. Biasanya mereka bisa mendapatkan uang hingga Rp 200 ribu. Namun karena bersaing dengan transportasi online, pendapatannya menurun drastis hingga 80 persen.

Untuk kenyamanan, lanjut Mauluddin, memang tidak bisa bersaing dengan kendaraan transportasi online, seperti penyediaan AC dan jok mobil yang empuk.

Namun, untuk keamanan, mereka menjamin tidak akan ada aksi kriminalitas yang bakal dialami oleh penumpang angkot.

“Kalau angkot, tidak ada kenyamanan, seperti itulah. Kalau keamanan, mudah-mudahan tidak ada copet. Sopir kami akan kami ingatkan,” katanya.

Nuraini (53), pengusaha angkot trayek Perumnas-Ampera Palembang, mengungkapkan bahwa setoran dari 12 sopir angkotnya menurun lebih dari 50 persen dari hari biasanya setelah ada transportasi online.

“Kalau dulu, setoran bisa sampai Rp 200 ribu sehari. Tapi sekarang bahkan bisa Rp 80.000 per hari. Ada 12 angkot saya dan enam unit masih kredit. Untuk upah sopir aja kadang kurang, ditambah lagi untuk melunasi kredit mobil,” ujarnya.

Saksikan video selengkapnya di : http://regional.liputan6.com/read/3110193/sopir-angkot-palembang-tuntut-transportasi-online-ditutup

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here